Rabu, 25 November 2009

DAMPAK POLA ASUH ORANG TUA

Para ahli selama ini (Gunarsa dan Gunarsa, 1995: Helm dan Turner, 1995; Papalia, Olds dan Feldman, 1998) mengemukakan bahwa pola asuh dari orang tua amat mempengaruhi kepribadian dan perilaku anak. Baumrind, ahli psikologi perkembangan membagi pola asuh orang tua menjadi 3 yakni otoriter, permisif, dan demokratis.

1. Pola asuh otoriter (parent oriented)
Ciri-ciri dari pola asuh ini, menekankan segala aturan orang tua harus ditaati oleh anak. Orang tua bertindak semena-mena, tanpa dapat dikontol oleh anak. Anak harus menurut dan tidak boleh membantah terhadap apa yang diperintahkan oleh orang tua. Dalam hal ini, anak seolah olah menjadi robot, sehingga ia kurang inisiatif, merasa takut, tidak percaya diri, pencemas, rendah diri, minder dalam pegaulan; tetapi disisi lain, anak bias memberontak, nakal, atau melarikan diri dari kenyataan, misalnya dengan menggunakan narkoba (alcohol or drug abuse). Dari segi positifnya, anak yang dididik dalam pola asuh ini, bisa jadi, iacenderung akan menjadi disiplin yakni mentaati peraturan. Akan tetapi dalam hatinya berbicara lain, sehingga ketika di belakang orang tua, anak bertindak dan bersikap lain. Hal itu tujuannya semata hanya untuk menyenangkan hati orang tua. Jadi anak cenderung memiliki kedisiplinan dan kepatuhan yang semu.

2. Pola asuh permisif
Sifat pola asuh ini, children centered yakni segala aturan dan ketetapan keluarga di tangan anak. Apa yang dilakukan oleh anak diperbolehkan oleh orang tua. Orang tua menuruti segala kemauan anak. Anak cenderung bertindak semena-mena, tanpa pengawasan orang tua. Ia bebas melakukan apa saja yang diinginkan. Dari sisi negative lain, anak kurang disiplin dengan aturan-aturan social yang berlaku. Bila anak mampu menggunakan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab, maka anak akan menjadi seorang yang mandiri, kreatif, inisiatif, dan mampu mewujudkan aktualisasinya.

3. Pola asuh demokratis
Kedudukan antara orang tua dan anak sejajar. Suatu keputusan diambil bersama dengan mempertimbangkan kedua belah pihak. Anak diberi kebebasan yang bgertanggung jawab, artinya apa yang dilakukan oleh anak harus di bawah pengawasan orang tua dan dapat dipertanggung jawabkan secara moral. Orang tua dan anak tidak dapat berbuat semena-mena. Anak diberi kepercayaan dan dilatih untuk mempertanggung jawabkan segala tindakannya. Akibat positif dari pola asuh ini, anak akan menjadi seorang individu yang mempercayai orang lain, bertanggung jawab atas segala tindakannya, tidak munafik, jujur. Namun akibat negatifnya, anak akan cenderung merongrong kewibawaan otoritas orang tua, kalau segala sesuatu harus dipertimbangkan antara anak-orang tua.

4. Pola asuh situasional
Dalam kenyataannya, seringkali pola asuh tersebut tidak diterapkan secara kaku, artinya orang tua tidak menerapkan salah satu fleksibel, luwes dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berlangsung saat itu. Sehingga seringkali munculah, tipe pola asuh situasional. Orang yang menerapkan pola asuh ini, tidak berdasarkan pada pola asuh tertentu, tetapi semuatipe tersebut diterapkan secara luwes.

Dari model pola asuh diatas, mana yang dianggap efektif dan efisien untuk menghadapi kehidupan dalam keluarga? Pertanyaan ini sulit dijawab secara pasti, karena masing-masing keluarga memiliki karakteristik masalah yang berbeda atau tidak sama. Oleh karena itu, tergantung orang tua yang menghadapi masalah keluarganya sendiri. Adakalanya, orang tua menggunakan pola asuh otoriter, tetapi adakalanya orang tua menerapkan pola permisif atau demokratis. Dengan demikian, secara tidak langsung, tidak adajenis pola asuh yang murni diterapkan dalam keluarga yang bersangkutan. Inilah yang akan mengarah pada pola asuh situasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar